Skip to main content

Posts

Raja Kecil di Desa

Beberapa hari yang lalu, di kabupaten Takalar, ada 49 desa yang melaksanakan Pilkades. Seharusnya 51 desa, ada 2 desa yang batal melaksanakan, penyebabnya sama, panitia pemilihan level desanya khilaf. Sengaja khilaf, atau entahlah. Di kabupaten Takalar ada 100 desa dan kelurahan, desanya ada 70-an lebih. Lebihnya saya sudah lupa. 49 desa itu telah lama menunggu, selama hampir dua tahun kepala desanya dijabat oleh "Pejabat Sementara" bentukan pemerintah kabupaten. Sejatinya Pilkades serentak di kabupaten Takalar dilaksanakan 2020 lalu. Pandemi virus datang, semua rencana amburadul. Dana difokuskan ke penanganan kesehatan masyarakat. Bukan hanya dana, faktor pembatasan kegiatan masyarakat juga jadi alasan. 17 November 2021, hari Rabu, sebagian besar warga Takalar melaksanakan pesta. Pesta demokrasi, demokrasi yang bernilai mahal. Banyak yang mesti dibayarkan, banyak uang yang digelontorkan. Seperti menjadi pengaturan dasar masyarakat kita, pesta demokrasi kental dengan nuansa p...

Kado Vaksin

Menjelang ulang tahun kedua Kopit-19, bulan desember depan. Dan ulang tahun pernikahan kami yang ke-6, hari ini, 25 Desember, Saya dan istri memutuskan untuk bergabung dengan 3.3 milyar lebih penduduk bumi yang telah menerima vaksin kopit-19, sesuai rilis data vaksin oktober lalu. Kupejamkan mata, saya mencoba menikmati setiap milimiter jarum suntik yang ditancapkan pada lapisan ototku. Kurelakan lengan kiri ini disakiti demi status sebagai penduduk dunia yang taat kepada tatanan global, taat kepada negara, dan tentutanya taat kepada industri farmasi dunia. 0,5ml Oxford AstraZeneca perlahan menjalar ke dalam setiap elemen sel-sel tubuhku. Ada rasa nyeri di lengan, dan sedikit gatal, serta lebih banyak keceriaan.  Vaksin AstraZeneca, meskipun kemanjurannya tak sehebat Pfizer, namun ada semangat nasionalisme yang mendorongku untuk menunggu vaksin buatan ahli-ahli di Universitas Oxford itu. Ada sedikit campur tangan ilmuwan Indonesia di dalamnya. Carina Joe, wanita muda asal Indonesia...

Selamat Bersama Tenaga Kerja Asing

Rasa takut saya selalu muncul tiap kali bepergian menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Alasannya tak perlu saya jelaskan, kita sudah tahu bersama. Pesawat jika mogok, misal tiba-tiba kehabisan aftur, doi tak memiliki pilihan menyalakan lampu sen kiri, parkir di bahu jalan seperti halnya mobil. Namun itu dulu sebelum saya berkenalan dengan Vlogger Pilot Vincent Raditya. Setelah mendengarkan setiap edukasi beliau terkait keamanan menggunakan moda transportasi pesawat di jaringan Youtube-nya, saya sudah lebih percaya diri tiap kali naik pesawat. Ingatan saya menyimpan dengan baik pesan penting, Pilot Vincent, ia sering mengutip hasil penelitian, dibandingkan moda transportasi lainnya, naik pesawat terbukti lebih aman, demikian katanya. Saya mengamini apa yang disampaikannya. Saya memahami hitungan statistik penelitian itu. Dan saya-pun memilih untuk percaya. Rabu, minggu lalu, saya diuji. Kepercayaan diri saya surut. Guyonan Vincent Raditya tak mampan. Pesawat Wings ...

Siapa yang Mengerjai?

Kegilaan pandemi covid-19 memasuki babak baru. Entah karena orang-orang sudah bosan. Atau mungkin mereka memang setiap hari gencar mencari informasi. Tetapi masyarakat sekarang sepertinya terbagi pada dua kepercayaan. Ada yang meyakini bahwa pandemi ini hanya akal-akalan segelintir orang. Ada juga yang masih tetap percaya bahwa wabah ini memang hadir secara alamiah. Saya sendiri masuk dalam golongan yang sudah bosan dengan situasi ini. Sehingga yang tadinya saya percaya wabah ini hadir secara alamiah. Kemudian murtad, Sedikit demi sedikit mempercayai teori pertama tadi. "Bangsat, kayaknya kita sedang dikerjai" gumam saya dalam hati, di suatu sore dalam kondisi perut kosong. Mesipun setelah berbuka dan kesadaran saya kembali. Tentunya saya tetap menyangkal telah murtad dari keyakinan bahwa Covid-19 muncul secara alamiah. Tetapi masa-masa setelahnya, peristiwa sore itu benar-benar telah mengubah segalanya. Saya sering berfikir, jika memang ini akal-akalan segelintir elit saja. ...

Luhut dan 500 Nyawa

Kurang lebih 500 korban nyawa akibat Covid-19 mungkin bagi Pak Luhut Bingsar Panjaitan hanyalah angka-angka yang merupakan wujud dari resiko sebuah wabah. Lebih tepatnya resiko dari sebuah kelalaian berjamaah pemimpin negeri. 270 juta jiwa penduduk Indonesia, angka 500 memang sangat kecil. 500 nyawa melayang bagi Pak Luhut yang menghabiskan masa muda di medan perang tak membuatnya merinding. Kemarin pagi saya menerima kabar duka tentang seorang kawan yang meninggal. Saya terkejut bukan hanya karena kematian kawan itu yang terasa begitu tiba-tiba. Tetapi karena saya diberi tahu bahwa beliau masuk dalam katergori Pasien dalam Pengawasan (PDP). Sekitar sebulan lebih yg lalu, pagi buta di terminal bus Mamuju. Saya baru saja tiba di kota tersebut saat telpon saya berdering.  Almarhum menanyakan posisi saya, ia tinggal di Mamuju dan beliau mengajak kami melakukan survei resistivity di sekitaran Mamuju. Malamnya bersama beberapa temannya kami makan di warung makan Lamongan. D...

Masyarakat Pattene' Monolak Tower PLN

Rencana pembangunan tower listrik saluran udara tegangan tinggi oleh PLN di kelurahan Pattene', kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, mendapat penolakan, Kamis (12/7). Lawan persawahan di  Pattene' Masyarakat yang sawahnya terkena imbas rencana pembangunan tower tersebut menolak. Mereka berasalan bahwa sawah yang mereka tanami sudah akan dipanen akhir bulan Juli ini. Menurut keterangan salah satu petani, Daeng Tarru mengatakan bahwa dia tidak rela sawahnya yang sebentar lagi dipanen, dirusak. Daeng Tarru menambahkan bahwa telah disampaikan kepada kami sebelumnya rencana pembangunan tower ini di bulan Agustus. Tetapi kenapa sekarang (Juli) tiba-tiba mau dibangun di sawah kami yang belum panen. Daeng Tarru berharap pihak terkait bisa memperhatikan kondisi mereka yang hanya berprofesi sebagai buruh tani. Masyarakat petani di Kelurahan Pattene' ini sebagaian besar menggantungkan hidup kepada hasil pertanian. Mereka berharap pemerintah setempat...

Dua Orang Asal Galesong Menjadi Korban Tewas KM. Lestari Maju

Kecelakaan laut yang melibatkan Kapal Motor Ferry Lestari Maju di perairan Kabupaten Bulukumba, Selasa (3/7/2018). Ternyata juga memakan korban satu keluarga asal kecamatan Galesong Selatan, kabupaten Takalar. Kondisi para korban KM. Lestari Maju. Satu keluarga yang berjumlah 6 orang ini rencananya akan berlibur ke kepulauan Selayar. Sebagai info yang kami kutip dari situs online Wartasulsel net, Rabu (4/7/2018). Satu keluarga asal desa Bontokanang ini terdiri atas, Negsih(25), angelina(5), aditya(1), jum(40), Andrian(14), dan Khaidir(2). Hingga berita ini diturunkan telah ditemukan dua korban dari Galesong Selatan dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Keduanya atas nama Nengsih dan Khaidir. Keluarga para korban di Galesong Selatan berharap korban lainnya bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat. Masih ada empat orang asal Galesong Selatan ini yang belum diketahui kondisinya. Peristiwa kecelakaan ini tercatat telah menelan 25 orang korban jiwa. Berikut data korban tewas...