Rasa takut saya selalu muncul tiap kali bepergian menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Alasannya tak perlu saya jelaskan, kita sudah tahu bersama. Pesawat jika mogok, misal tiba-tiba kehabisan aftur, doi tak memiliki pilihan menyalakan lampu sen kiri, parkir di bahu jalan seperti halnya mobil.
Namun itu dulu sebelum saya berkenalan dengan Vlogger Pilot Vincent Raditya. Setelah mendengarkan setiap edukasi beliau terkait keamanan menggunakan moda transportasi pesawat di jaringan Youtube-nya, saya sudah lebih percaya diri tiap kali naik pesawat.
Ingatan saya menyimpan dengan baik pesan penting, Pilot Vincent, ia sering mengutip hasil penelitian, dibandingkan moda transportasi lainnya, naik pesawat terbukti lebih aman, demikian katanya.
Saya mengamini apa yang disampaikannya. Saya memahami hitungan statistik penelitian itu. Dan saya-pun memilih untuk percaya.
Rabu, minggu lalu, saya diuji. Kepercayaan diri saya surut. Guyonan Vincent Raditya tak mampan. Pesawat Wings Air jenis ATR 72 buatan Prancis-Italia, yang saya tumpangi itu, mutar-mutar di atas laut sebelah timur bandar udara Morowali, tak berani mendarat. Dari jendela pesawat yang terlihat hanya kabut putih, permukaan laut, dan kegelisahan.
Pilot menginfokan kondisi jarak pandang di bandara Morowali, tak aman untuk proses pendaratan. Kita akan menjalani prosedur menunggu setengah jam dengan mutar-mutar di langit, berharap cuaca berpihak ke pilot.
Suasana mulai berubah, Tenaga kerja asing asal Cina yang duduk di sebelahku terlihat mulai gelisah, sebagaimana gelisahnya orang Cina. Sesekali mereka saling berkomunikasi memakai bahasa Cina, yang menandakan mereka benar-benar TKA Cina.
Tak seperti pesawat jet ukuran relatif besar, semisal Boeing 737 dan sejenisnya. Pesawat jenis ATR 72 memberikan sensasi uji nyali yang lebih mengintimidasi kejiwaan ketika dalam cuaca buruk. Ukurannya yang lebih kecil dan ringan, serta pendorongnya yang berupa baling-baling, menjadikannya lebih mudah terombang-ambing dilumat angin.
Tidak sekali ini saja saya dibuat tegang oleh tipe pesawat seperti itu. Pernah sauatu waktu penerbangan dari Kendari ke Makassar, kepala saya hampir membentur atap pesawat, turbulensinya hebat. Cerita seperti itu juga ku alami ketika terbang dari Bima ke Makassar 4 tahun silam, pelakunya juga masih sama, ATR.
Tiga puluh menit sudah adegan mutar-mutar itu. Daratan masih belum terlihat, kabutnya betah, nyaman berlama-lama di atas Morowali, seperti TKA Cina yang sudah bertahun-tahun di daerah itu. Mereka juga nyaman.
Pilot memutuskan kembali ke Makassar, aftur pesawat menipis katanya, info itu iya sampaikan melalui pengeras suara di ruang pesawat. Tapi bukannya nyaman, saya malah semakin tegang.
Konten edukasi Vincent Raditya yang selama ini saya konsumsi itu menguap di awan-awan, hilang menyatu dengan kabut tebal di luar sana, aku pasrah!
"bagaimana misalnya kalau sampai di Makassar pesawat juga tak bisa mendarat karena alasan yang sama?" demikian kalimat yang mengisi kepalaku, yang membuat batinku tak nyaman.
Saya menatap dan fokus ke pramugari, berharap bisa mengalihkan ketegangan, tak mampan. Pramugarinya tak sedap dipandang dalam suasana batin seperti itu. Satu-satunya kenyamanan adalah menutup mata dan larut dalam kekhusyukan lantunan doa. Semoga Tuhan menyelamatkan kami beserta TKA Cina itu.
Comments
Post a Comment