Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Indonesia

Aku Bukan Kijang, Kamu Bukan Robocop

Bercerita perihal ketertiban umum di kota Makassar maka topik utama untuk beberapa bulan belakangan tak jauh dari persolan tindakan kriminal yang ditunaikan oleh sekelompok orang (kalau anda sudi menyebutnya demikian) dengan mengandalkan hukum fisika dasar, teori newton ke 2 dan 3. Ketapel, kalau bukan parang. Parang, kalau bukan ketapel. Terjadi satu dua kali dalam sebulan mungkin bisa dikatakan intensitas normal meskipun dalam tatanan keamanan dan standar yang ciamik itu tidak bisa dikatakan zero incident . Ia maksud saya keter-begal-an ataupun pem-begal-an yang berlangsung hamper tiap hari sungguh begitu menyita pikiran bagi kaum pemikir. Ada anekdot baru dari teman nongkrong gue yang sering menyangkut pautkan tindak criminal begal di Makassar ini supaya terkesan lebih mendunia, kan kota kota dunia. “menurut data yang  dilansir PBB, setiap lima detik ada satu pembegalan     yang terjadi di Makassar”   Katanya nyinyir bangga. Menyebarkan berita seperti ini ...

Bersuku dan BerIndonesia

"Dari sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote" itulah defenisi Indonesia waktu ku kecil dulu. Membentang ribuan kilometer dipermukaan bumi dengan georafi yang bermacam rupa. Indonesia negeri yang lahir dari cerita panjang masa lalu. Indonesia dengan manusianya yang beraneka rasa dan bentuk dara. Sudah sepantasnya kita yang merasa ber-Indonesia memanjatkan pujian untukNya sang Pencipta. Dan pada suatu cerita kutemukan bahwa keaneka ragaman yang Tuhan anugerahkan bukanlah kebaikan bagi sebagian orang. "orang Jawa itu palla nyawa, orang Bugis itu penakut, orang Papua itu olo-olo" begitulah sepenggal pesan orang tua dari masa lalu. Dan aku tumbuh menjadi manusia yang rasis setidaknya sampai aku mengerti tentang "Bhine Tunggal Ika" di bangku SMP dulu. Entah mengapa orang tua dulu begitu sempit dan sering tampil arogan dengan kesukuannya. Dibeberapa sumber sejarah telah kutemukan cerita tentang strategi kompeni merorong nusantara. Para ...

Pancasila di Podium Tertinggi

Senin pagi saat dimana seluruh sekolah di negeri ini melaksanakan upacara bendera. Kepala Sekolahku tampil di podium membacakan lima teks itu yang belakangan baru kutahu bahwa itulah sumber dari segala sumber hukum di negeri ini –Pancasila. Kepala Sekolahku tampil mebacakannya dengan intonasi yang berirama garang seperti saat gladi resik. Bagiku saat itu teks pancasila adalah lima teks yang dibaca kemudian akan diikuti oleh khalayak yang hadir, membahana dan kuanggap itu sebagai yel-yel pemacu semangat untuk mengarungi hari-hari persekolahan seminggu kedepannya. Dangkal sungguh pengetahuanku tentang Pancasila waktu itu. Sekarang kutahu bahwa seorang pembesar telah merangkai lima susunan kalimat pemersatu. Temanya yang Bhineka Tunggal Ika telah membuat bangsa penuh rasa, ras, dan keyakinan ini menjadi terangkul di bawah lintasan garis katulistiwa. 1 juni enam puluh tujuh tahun lalu sebuah pidato bersejarah dibacakan dari ibukota Negara. Bung Karno dari pengasingannya membawa konsep Nega...

Aroma Minyak Masa Lalu

"Selama saya menjadi penjual bensin eceran, saya telah mengalami enam kali kenaikan BBM" ujarnya bangga. Pak Amir adalah saksi hidup grafik menanjak dari sisa fosil zaman jurasik. Minyak bumi dari dalam perut kepulauan nusantara yang sejatinya dipersembahkan untuk hajat hidup manusia-manusia Indonesia. Aku masih kecil waktu itu, ketika sore menjelang di saat para nelayan bersiap dengan perahu Katinting berpenggerak mesin bensin. Mengarungi samudera demi menyambung hidup di esok hari. Aku sering disuruh paman membeli beberapa botol bensin dalam takaran tradisional (botol markisa Malino). Masih ku ingat aroma dan harganya, lima ratus rupiah per-botol yang setara lima ratus rupiah per-liter. Jika paman memberiku empat lembar rupiah yang di dalamnya berpose seekor Orang Hutan Kalimantan, aku sudah sempoyongan membawa empat botol yang cukup berat untuk ukuran anak delapan tahun. Membahas belang demi belang, aroma demi aroma, dan teori ekonomi demi ketahanan devisa negara. ...

Aku adalah Indonesia

Hidup adalah imajinasi dan perjuangan. Menerawang jauh dan menggambar hidup kita dalam kaidah tak terdefinisi, itu adalah imajinasi. Bisa menikmati sudut-sudut jauh dari posisi nyaman kita, itu adalah perjuangan. Bagi sebagian manusia hidup adalah kenyamanan yang tak mengusik hati dan tak memeras keringat, tak merampas waktu dan santai duduk di atas kursi. Sepenggal cita-cita yang aku pendam dimasa depan adalah hidupku dalam bentuk imajinasi. Aku ingin mengajar jauh di pedalaman negeri ini, itu adalah diriku dalam bentuk perjuangan. Aku ingin menjadi negeri ini dan itu adalah aku dalam bentuk Indonesia.

Hari Pahlawan di Mata Mahasiswa Semester VII

10 November enem puluh enam tahun lalu telah terjadi pertemepuran terbesar setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 agustus 1945 di kota Surabaya. Hal ini terjadi setelah para pemuda  residen Soedirman memanjat hotel Yamato untuk merobek bendera Belanda yang sengaja dikibarkan oleh pihak Belanda. Sebagai Mahasiswa semester VII belum banyak yang telah saya lakukan untuk tanah air yang telah direbut kembali dengan tumpahan dara para pahlawan.