Motor saya masih terhenti karena macet menggila di Jembatan Barombong. Saya tiba-tiba merenungi perkataan Pak Mochtar Lubis tentang karakter manusia Indonesia, yang salah satunya disebutkan sebagai manusia hipokrit atau munafik.Saya masih bingung, bagaimana mungkin Pak Mochtar, seorang cendekiawan dan penulis ulung, pada tahun 1977 dengan entengnya menyebut kami ini sebagai kumpulan manusia munafik? Bagaimana mungkin Pak Mochtar bisa mengabaikan data-data survei dunia yang selalu menempatkan Indonesia di urutan teratas sebagai bangsa yang ramah dan dermawan? Atau mungkin Pak Mochtar punya dendam pribadi terhadap masyarakat Indonesia? Tapi, bukankah beliau juga orang Indonesia? Renungan saya kemudian menguap. Macet di Jembatan Barombong pun belum juga terurai. Sudah tiga puluh menit saya menggerutu dalam hati sambil memikirkan kembali perkataan Pak Mochtar Lubis. Sampai saya tersadar bahwa kemacetan di depan ini adalah kemacetan yang hipokrit. Bagaimana mungkin saya sudah merasakan kema...