Skip to main content

Posts

Yumna Part 2 - Sanubari Waktu

Selamat malam anak gadisku Lailatul Yumna, selamat menyambut bulan Suci Ramadhan bagi kita umat muslim. Saat aku menuliskan ini, kamu telah tidur pulas di atas ranjang berklambu. Tadi sore kamu memakasaku untuk tidak berjamaah magrib di masjid. Dirimu mau dimanja oleh ku. Memerintah dengan telunjuk untuk di bawah ke teras rumah. Entah apa maumu?. Yumna anakku, tadi sehabis Ashar saya, kamu, dan ibumu berkunjung ke Kampun Beru. Bertamu ke rumah nenek mu. Sungguh sulit menuliskan kata “bertamu” di saat kitalah yang tuan rumah sesungguhnya, nak. Saya dan Ibu-mu siarah ke Makam ayahnya bapak mu ini. Yumna, harus kau tahu betapa sedih diriku. Untuk pertama kalinya semenjak menginjak usia dewasa, bapak mu ini ziarah kubur sebelum masuk Ramadhan. Dulu ayah pernah melakukannya, sudah lama sekali. Mungkin usia ku saat itu tiga sampai lima tahun. Aku ikut nenek mu berkunjung ke makam kakek dan nenek ayah-mu ini. Anakku, hati ayah sekarang sesungguhnya belum berhenti sedih. Setiap kali mengin...

Yumna Part 1 - Konsekuensi Hidup

Ini pertama kalinya saya bercerita tentangmu di blog. Lailatul Yumna, anak gadis pertamaku, saat aku menulis ini usiamu baru lebih 10 bulan. Aku tidak mau menuliskan tepatnya tangga lahirmu di tulisan ini nak. Kau harus tahwa bahwa ayahmu ini sungguh tidak pernah merayakan pesta ulang tahun dan tak pernah memikiran sama sekali tentang hal itu. Bahkan saat masa-masa ayahmu ini masih berkecimpun di dunia perpacaran, saya akan mencari cara agar gadis yang tengah menaruh hati terhadap ayahmu ini bingung menentukan kapan akan memberikan semacam kejutan hari ulang tahun kepada ayahmu. Saat teman-teman gadisku bertanya tentang tanggal kelahiranku, ayah mu akan memberikan tak kurang dari tiga pilihan tanggal. Pertama adalah tanggal lahir versi ijazah yang dalam hal ini dikarang oleh kepala sekolah ayah waktu SD duluh. Kedua adalah versi tanggal lahir dari nenekmu yang memakai penanggalan almanak hijria. Dan yang ketiga adalah versi ayahmu sendiri. Versiku adalah mencocokan versi nenekmu ke...

Sumber Ketidak Enakan Pemimpin Jaman Now

Najwa Shihab "apa paling tidak enaknya jadi Gubernur?" tanya Najwab dengan sedikit senyum intimidatifnya yang khas kepada lima orang bapak-bapak di kiri kanannya. Jawaban kelimanya kurang lebih sama, "rakyat terlalu berharap lebih kepada pemimpinnya". kelimanya mengakui kelemahannya sebagai mahluk yang penuh keterbatasan. Terus mengapa rakyat itu (yang dimaksud oleh lima bapak-bapak) seolah lemah dan menjadi manusia-manusia penuh harap kepada pemimpinnya (pemimpin politik). Bahkan secara  menyedihkan dijadikan sebagai subjek penyebab ketidak enakan oleh gubernur?. Analisis pribadi saya, karena kebanyakan dari lima orang bapak-bapak ini saat kampanye dulu terlalu kencang meniupkan angin surga. Tampil di atas podium sebagai sosok penawar setiap derita. Maka setelah itu orientasi rakyat menjadi beralih dari sosok imajiner di gubuk-gubuk deritanya ke sosok nyata di atas podium. Beberapa hari yang lalu, saya dan teman berkunjung ke rumah jabatan salah satu...

Aku Seorang Bupati

Bupati Takalar baru saja dilantik, belum cukup seminggu. Jumat (22/12) adalah saat bersejarah bagi kabupaten Takalar. Bapak Syamsari Kitta didaulat sebagai orang nomor wahid di kabupaten berpenduduk lebih dua ratus ribuan jiwa itu. Di media online, Pak Bupati dan wakilnya menjalani hari pertama mereka bertugas dengan menjalankan ibadah sholat Jumat bersama ratusan jemaah di masjid Agung Takalar. Setelah sholat, beliau menyampaikan pesan agar para abdinya nanti senantiasa memakmurkan masjid. Besoknya, Bupati secara resmi melakukan tugasnya. Sabtu (23/12) memimpin upacara dalam sebuah forum yang dihadiri ratusan guru sekabupaten itu. Tak menunggu lama, setelah forum itu selesai, Bupati dan Wakilnya terlihat meninjau selokan yang tersumbat sekaligus membersihkannya. Walaupun sebenarnya menjadi seorang nomor satu sekabupaten itu bukanlah perkarah yang remeh. Melihat kegiatan Bupati di hari pertama ia bertugas membuat saya berkhayal. Momen hari pertama tentulah tak akan pernah dilupak...

Cinderamata Dari Pilkada Takalar

Suasana Pengambilan Nomor Urut Pasangan Calon Pilkada Takalar 2017 Pilkada Takalar 2017 hari ini menemui puncaknya, dinobatkanlah pasangan Bupati dan Wakil Bupati Takalar periode 2017-2022 oleh gubernur bapak Syahrul Yasin Limpo di ruang pola jabatan kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Bapak Syamsari Kitta dan bapak Ahmad daeng Sere' adalah nahkoda baru bagi masyarakat di kabupaten Takalar untuk lima tahun selanjutnya. Pasangan ini telah melewati jalan yang tidak mulus untuk merengkuh posisi sebagai orang nomor satu dan dua di kabupaten pesisir ini. Setahun sebelum pilkada Takalar digelar, nampaknya Bupati incumbent akan dengan mudah memenangkan pergulatan. Syamsari Kitta (SK) yang menjadi lawan beratnya di 2012 masih belum memberikan sinyal yang meyakinkan setelah kegagalan beliau melenggeng ke Senayan. Basis-basis bapak Burhanuddin sebagai bupati yang sedang menjabat makin kuat di berbagai tingkat desa dan kecamatan se-kabupaten Takalar. Figur-figur yang muncul-pun ras...

Cinta Rupiah Bersama Cindy Cenora

"Aku suka rupiah biar dollar merajalela, aku cinta rupiah karena ku anak Indonesia” Demikian sepotong lirik lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh Cindy Cenora. Bagi saya dan mungkin jutaan anak Indonesia yang menghabiskan masa kanak-kanak di tahun 90-an, tentulah penggalan lagu tersebut tidak begitu asing. TVRI misalnya, yang senantiasa memutarkannya untuk kami pada saat hari libur tiba. Masa itu merupakan masa keemasan bagi perkembangan industri lagu anak-anak di Indonesia. Beberapa kenangan lagu masa kecil itu terbawa hingga saya dewasa, Cinta Rupiah oleh Cindy Cenora adalah salah satunya. Lagu Cinta Rupiah sedikit banyak mempengaruhi masa kecil saya di kampung nun jauh di pesisir Sulawesi Selatan. Dari lagu itu saya jadi tahu bahwa ternyata nama mata uang negara saya adalah Rupiah. Bagi anak kecil seperti saya dan beberapa teman sebaya waktu itu, kehidupan kami di kampung juga sangat lekat dengan Rupiah. Bahkan beberapa jenis permainan tradisional yang kami mainkan menggunak...

Karakter PSM itu bernama Syamsul

Syamsul Haeruddin Setelah PSM Makassar merengkuh gelar juara liga kasta tertinggi sepak bola Indonesia tahun 2000. Tidak lantas membuat tim ini redup pamor dan kwalitasnya. Bahkan setelah generasi Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Samsuddin Batola yang dikenal sebagai generasi emas itu selesai. Tim ini tak berhenti memunculkan bakat jempolan andalan tim nasional sepakbola Indonesia. Generasi PSM selanjutnya tidak kalah brilian, kuartek lini tengah Fagundes, Syamsul, Ponaryo, dan Irsyad Aras (kakak kandung Ardan Aras) adalah jaminan mutu penghuni kasta tertinggi. Hanya Persik Kediri, Persija, dan Persipura yang sering mengganggu hegemoni kekuatan PSM saat itu. Saya masih umur 12 tahun kala itu, saat seisi stadion selalu bergemuruh menyambut aksi taktis bakat alam bernama Syamsul Haeruddin. Akses yang masih susah dari rumah saya di Galesong, Takalar di awal tahun 2000-an tak membuatku ketinggalan setiap pertandingan PSM Makassar saat berlaga di Mattoangin. RRI Pro 1 Sul...