Skip to main content

Yumna Part 1 - Konsekuensi Hidup

Ini pertama kalinya saya bercerita tentangmu di blog. Lailatul Yumna, anak gadis pertamaku, saat aku menulis ini usiamu baru lebih 10 bulan. Aku tidak mau menuliskan tepatnya tangga lahirmu di tulisan ini nak. Kau harus tahwa bahwa ayahmu ini sungguh tidak pernah merayakan pesta ulang tahun dan tak pernah memikiran sama sekali tentang hal itu.

Bahkan saat masa-masa ayahmu ini masih berkecimpun di dunia perpacaran, saya akan mencari cara agar gadis yang tengah menaruh hati terhadap ayahmu ini bingung menentukan kapan akan memberikan semacam kejutan hari ulang tahun kepada ayahmu. Saat teman-teman gadisku bertanya tentang tanggal kelahiranku, ayah mu akan memberikan tak kurang dari tiga pilihan tanggal.

Pertama adalah tanggal lahir versi ijazah yang dalam hal ini dikarang oleh kepala sekolah ayah waktu SD duluh. Kedua adalah versi tanggal lahir dari nenekmu yang memakai penanggalan almanak hijria. Dan yang ketiga adalah versi ayahmu sendiri. Versiku adalah mencocokan versi nenekmu kedalam penanggalan tahun masehi.Anakku, Yumna, sebagaimana aku biasa memanggilmu.

Saat ayah menulis ini kamu berada dalam fase lucu-lucunya sebagai mana yang orang biasa katakan. Engkau senang bermanja-manja kepada ayah dan ibumu. Saat ibumu solat, engkau biasa dengan sekuat tenagamu berusaha meraih talkumnya, menarik-nariknya dari belakang. Saat saya sedang membuka pintu, engkau pasti memperhatikanku diiringi tangisan menandakan bahwa engkau ingin ikut.

Beberapa bulan lalu ayahmu ini baru saja kehilangan kakekmu. Sebuah fakta takdir yang mengguncang mental dan semangatku. Walaupun saat kakekmu dalam masa-masa sakratul maut saya mampu menerima kenyataan tentang rahasia maut. Saat itu dengan sikap dewasa saya mendampingi kakekmu di detik-detik terakhirnya. Kenyataan bahwa semua yang hidup pasti akan menjumpai yang namanya kematian membuatku mampu menerima kepergian kakekmu.

Namun setelah itu, beberapa bulan setelah kepergiannya ayahmu semacam masuk dalam nostalgia masa-masa kecil. Kenangan tentang curahan kasih sayang yang pernah saya dapatkan membuatku tak kuasa menahan air mata di rakaat terakhirku. Garis wajahnya, legam kulitnya, dan aroma kerja kerasnya menari-nari di depanku. Ayah dilanda rindu yang menggunung.

Yumna anakku, di saat tulisan ini saya buat. Engkau sedang semangatnya bermain dan mengarahkan keretamu. Engkau terjatuh di teras rumah yang masih berupa batu dan tanah dengan keras. Engkau berusaha mengejar ibumu yang menjemur di luar rumah. Kepelamu memar, alismu berdarah, dan sekeliling matamu lecet dan bengkak.

Ibumu merasa sangat bersalah, menangis memelukmu dengan tubuh yang gemetar. Saya sedikit memarahinya dan ia-pun mengakui kelalaiannya. Engkau begitu takut dan terkejut waktu itu, tangisanmu senduh, luka di alismu masih terus mengeluarkan darah. Tisu yang kujadikan lap sudah dipenuhi warna merah.

Saat engkau mulai berhenti menangis, aku meraihmu dari gendongan dan pelukan ibumu. Aku mendekapmu di atas kursi di depan laptop yang masih ada catatan ini anakku. Tangan kecilmu yang nakal meraih tombol-tombol papan ketik laptopku. Lihatlah hasil ketikan di bawah ini anakku. Ada rangkaian spasi dan huruf “B” kapital yang kemudian diakhiri dengan tanda koma. Kemudian spasi lagi hingga akhirnya aku meraih tangan kecilmu.

B ,

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tarwi Pertama

Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Celengok

Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.

Obat Insomnia

Hari ini aku insomnia, berenang di laut adalah pilihan terbaik untuk mengobati ini semua. Banyak kerunyeman yang menggantung bebas dalam pikiran. Laut hari ini nampak jernih tak ada dosa. Aku mulai jenuh dengan keadaan yang mewarnai hari-hariku di kampus. Mungkin satu jam bersenyawa dengan mineral di lautan akan membuat tubuh menjadi sedikit santai.