Skip to main content

Posts

Pelecehan Seksual

Aku tahu, kalian pasti akan membaca tulisan ku ini karena judulnya, tapi tenang saja dan silahkan terus membaca, mungkin kalian akan sedih, benci atau tertawa tapi itu kembali kepada pikiran kalian simmasing gais. Saya tidak tahu apa-apa, ilmu sosial, ilmu sipil atau bahkan prinsip ekonomi. Saya hanya seorang manusia yang senang ke-sok tahuan, bersemangat jika disuruh berkomentar, dan seperti itulah aku. Berbicara tentang tata kota dan kehidupan masyarakat, apa ku tahu? Kalau bukan pengalamanku menggunakan sarana transportasi ibu kota Jakarta, mana berani saya berkomentar. Menaiki kereta listrik jurusan Bekasi-Jakarta pada sebuah pagi di hari senin bulan februari. Masih jelas diingatan, masih sejuk di pikiran, aroma ketergesa-gesaan. Aku terjepit diantara onggokan manusia pekerja yang memilih mode transportasi kereta menuju Jakarta. Tubuhku tersangkut di dalam ruangan kereta yang membludak, di belakang seorang wanita muda. Bagian tubuhku menempel di bagian tubuhnya. Aku tak berniat...

Menyambut Yang Baru

Selamat menyambut tahun baru versi masehi. 2014 yang hangat, aroma hembusan musimnya membuatku kesemsem. Gelar sarjana yang bertahun ku susun, terwujud pada akhirnya di tahun ini. Semerbak bulan demi bulan, rasa khawatir dan duka serta tawa-tawa yang mengudara, terbang ke utara kemudian naik tepat di atas samudera harapan. Bolehlah dikau menitipkan citamu di tahun esok, anak muda memang pantang berlutut tangis di selasar duka. Kini episode dari sinetron hidup tak bisa lagi berkiblat pada rating khalayak penonton. Ada pacuan Mustang di seberang laut. Sekarang mungkin tempurung masih indah di atap-atapnya, Katak kece yang doyan di zona nyamannya haruslah kuat menerpa angin. Meloncat laksana Menjangan walau sebenarnya ia tetaplah Katak. Berjingkrak, terguling, dan biarkan slogan Rinso bahwa “kotor itu baik” menstabilokan baris-baris kalimat sukses mu. 2015, pemuda kampung dalam dialek Inggris. Intonasi harus meng-indonesia dan attitude yang dalam bahasa melayu disebut perilaku, h...

Selasar Barat Daya

Mata pekat, merah di tepian bolanya. Mungkin sempoyongan saban hari dipecundangi polusi Jakarta. Separuh jalan MH. Tamrin adalah tiga puluh menit yang romantis. Jalan kaki menyusuri selasar barat daya Monumen Nasional. Semoga keringat dan semangatku bernilai ibadah, aamin.

Jakarta

Semburat bingkisan gelombang elektromagnetik dari bintang terdekat dengan planet tempatku berpjak, beberapa masyarakat menamainya cahaya matahari. Ia jatuh ke permukaan mengendap di celah awan bekas hujan lebat siang tadi. Dari kabin Nissan Grand Livina, di kilometer kesekian Jagorawi, setelah melewati pintu tol kedua. Di kejauhan, di utara nun jauh berderet burupa bayangan. Bangunan pencakar atap dunia, berkerumun serupa ilalang di padang tak bertuan. Debunya serupa vapor back konser Mother Monster. Jakarta 6 desember, ancaman banjir, ataukah cerita tentang kutub politik, headline berita demikianlah sirkulasinya. Banyak kutemukan di Koran-koran nasioanal diemperan halte busway. Tak habis pembahasan tentang gubernur tandingan, ngantri dibelakangnya tentang ahli partai berebut kursi. Banyak juga gossip tentang ulah oknum di acara car free day. Semacam debunya yang menggerogoti sampai ke kerongkongan, Jakarta tak ubahnya magnet super hasil olahan teknologi superkonduktor ilmua...

Faiz

Dalam ajaran agama apapun, dalam wujud dan bentuk kepercayaan apapun manusia akan meyakini bahwa Tuhan itu adil. Terkadang di tengah gelombang cobaan, di tepian masalah yang teramat dasyat manusia-manusia yang memegang teguh kesabaran akan mengobati lukanya dengan mensugesti seluruh aliran jiwanya “Tuhan maha adil”. Inilah rahasia alam semesta, inilah potongan puzzle, inilah bentuk yang terkadang tak kita pahami. Membandingkan diri sendiri dengan kebahagiaan yang dicerna oleh penglihatan atas orang lain. Adakalanya iri, adakalanya menyesali, dan adakalnya bingung. “katanya Tuhan maha adil tapi kok saya begini?” Gembala rasa iri, sesal, dan bingungmu kawan tapi sebelum ia terlalu dewasa dan berkekuatan untuk mengaturmu maka bunuhlah ia. Cobalah menengok di sebuah sisi, jauh di tepian bumi yang tak kau lihat. Ada wujud yang mungkin bisa menjawab teka-teki, melengkapi puzzle yang telah menginang lama di hatimu, di benakmu. Namanya Faiz, terlahir ke dunia sekitar sepuluh tahun lalu...

Palingkanlah Wajahmu

Dan panas matahari pun tak bercanda. Partikel udara semakin liar, kadar kelembaban semakin menjadi. Ini bukan persoalan cuaca, ada beban dalam sukma yang menambah tegangnya alur drama ini. Kulihat sosok penyesalan, ia tersenyum, “belajarlah dan palingkan wajahmu dari ku” ucapnya seraya wujudnya tengelam dilumat kesadaran. Aku paham betul bagaimana takdir telah tertulis, aku juga tahu bahwa ini bukanlah kebetulan. Asap kayu bakar yang sedari tadi mengepul dibakar jiwa di muka rumah kini bersatu dengan sosok penyesalan yang menghilang tadi. Masuk kedalam rongga pernafasan yang mulai bingung dengan iramanya. Aku batuk, keluarlah nikmat itu. Ini seperti apa yang seharusnya terjadi tapi yang tak aku inginkan. Ia berlalu dan nimatnya kusadari baru. Semacam pahit kopi yang membuat rindu, terkadang tak kau tahan tapi harapan seperti itulah yang kau harapkan.

:)

Tak beranjak meninggalkan sisa hidupnya yang serba kekurangan, Navil masih menganggap bahwa semua ini adalah cobaan. Ia menghela sedih hanya untuk secerca senyum terpaksa, menerawang mata kanannya yang dengan menutup yang kiri. Ia tersadar penglihatannya berkurang, ia takut akan semua kemungkinan. "jika tuhan menulis takdir dalam susana bercanda maka semoga setelah ia lekas tertawa" - Navil tak pernah mau bergumam sehina itu. Kembali ia tersadar, tuhan adalah sebaik-baiknya yang maha tahu. Tak ada alasan bagi Navil untuk menyalahkan takdir, ia tak pernah menyesal pernah terlahir. Mentari terbit tiap harinya dan pepohonan meniupkan udara baginya untuk bernafas, Navil bersyukur semampu dengan apa yang terbaik.