Aku tahu, kalian pasti akan membaca tulisan ku ini karena judulnya, tapi tenang saja dan silahkan terus membaca, mungkin kalian akan sedih, benci atau tertawa tapi itu kembali kepada pikiran kalian simmasing gais. Saya tidak tahu apa-apa, ilmu sosial, ilmu sipil atau bahkan prinsip ekonomi. Saya hanya seorang manusia yang senang ke-sok tahuan, bersemangat jika disuruh berkomentar, dan seperti itulah aku.
Berbicara tentang tata kota dan kehidupan masyarakat, apa ku tahu? Kalau bukan pengalamanku menggunakan sarana transportasi ibu kota Jakarta, mana berani saya berkomentar. Menaiki kereta listrik jurusan Bekasi-Jakarta pada sebuah pagi di hari senin bulan februari. Masih jelas diingatan, masih sejuk di pikiran, aroma ketergesa-gesaan. Aku terjepit diantara onggokan manusia pekerja yang memilih mode transportasi kereta menuju Jakarta. Tubuhku tersangkut di dalam ruangan kereta yang membludak, di belakang seorang wanita muda. Bagian tubuhku menempel di bagian tubuhnya. Aku tak berniat melecehkan, pelecehan ini adalah semacam ketetapan alam. Dimana aku ditaruh pada suatu pagi di dalam gerbong yang padat dan berada tepat di belakang gadis muda dengan bagian tubuh ku yang menempel pada bagian tubuhnya.
Aku tak menemukan cara untuk terlepas dari intimidasi ini, bergerak sedikit, aku khawatir dituduh mengeksplorasi kasus pelecehan yang terpaksa ini, serba salah aku jadinya. Ku lempar pandangan ke jendela kereta dalam keadaan masih berdiri dengan tangan kanan menggelantung. Aku baru sadar ternyata kaca jendela kereta menjadi semacam cermin karena suasana di luar kereta masih gelap, semoga kalian paham maksudku tentang ilmu optic perihal kaca jendela kereta yang berubah menjadi cermin.
Dan pada waktu yang sama, wanita muda yang berada di depanku, yang juga terjepit diantara bongkahan, yang secara tidak sengaja menjadi korban pelecehan ku, dia-pun melemparkan pandangan ke arah kaca kereta. Kami melihat titik yang sama di kaca, maka jadilah kami bertatap-tatapan antara pelaku dan korban via kaca jendela yang berubah jadi cermin itu. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tetapi dari motif wajahku yang bercirikan jagal, bolehlah aku curiga bahwa di dasar lamunannya aku ini pria murahan yang pikirannya disesaki fantasi cabul. Semoga Tuhan mengampuni kasus ku ini, dan semoga prasangka buruk yang mungkin terlahir diampuni-Nya.
Bukan karena doyang, pagi ini kasus yang sama kembali terjadi. Transjakarta menjadi TKP, kembali terperangkap dalam kasus tempel tertempel. Aku pasrah dalam keadaan hati mengomeli pemerintah yang tak becus mengurusi sarana angkutan massal. Dalam keadaan terjepit seperti ini aku masih berfikir untuk jadi presiden, “akan ku bakar semua mobil sialan ini, akan ku bangun sarana transportasi paling sopan dan manusia” omelanku dalah hati.
Di kota kampret dengan triluanan masalah ini, jikalau kita tak memiliki sifat cabul dan tak berniat untuk melecehkan, maka bersiaplah diberikan cobaan di mana dikau akan terlecehkan. Jangan percaya sebelum kalian melihat atau bahkan merasakannya sendiri.
Comments
Post a Comment