Skip to main content

Jembatan Barombong dan Mochtar Lubis

Motor saya masih terhenti karena macet menggila di Jembatan Barombong. Saya tiba-tiba merenungi perkataan Pak Mochtar Lubis tentang karakter manusia Indonesia, yang salah satunya disebutkan sebagai manusia hipokrit atau munafik.Saya masih bingung, bagaimana mungkin Pak Mochtar, seorang cendekiawan dan penulis ulung, pada tahun 1977 dengan entengnya menyebut kami ini sebagai kumpulan manusia munafik? Bagaimana mungkin Pak Mochtar bisa mengabaikan data-data survei dunia yang selalu menempatkan Indonesia di urutan teratas sebagai bangsa yang ramah dan dermawan? Atau mungkin Pak Mochtar punya dendam pribadi terhadap masyarakat Indonesia? Tapi, bukankah beliau juga orang Indonesia?

Renungan saya kemudian menguap. Macet di Jembatan Barombong pun belum juga terurai. Sudah tiga puluh menit saya menggerutu dalam hati sambil memikirkan kembali perkataan Pak Mochtar Lubis.

Sampai saya tersadar bahwa kemacetan di depan ini adalah kemacetan yang hipokrit.

Bagaimana mungkin saya sudah merasakan kemacetan di jembatan ini hampir setiap hari, namun setiap hari pula hanya menggerutu dalam hati, tanpa berani bersuara, tanpa menyuarakan agar pemerintah membangun jembatan baru yang lebih lapang, lebih manusiawi, dan lebih lancar—seperti jabatan anak-anak Pak Jokowi?

Bagaimana mungkin para pejabat legislatif yang juga sering menikmati kemacetan ini tidak pernah mengeluhkan kemacetan yang disebabkan oleh kebodohan berjamaah ini?

Atau memang AC mobil Alphard para pejabat kita bisa membuat pikiran lebih adem, sehingga kadar hipokrit dalam darah naik signifikan? Kadar hipokrit yang tinggi tentu akan membuat nyali untuk bersuara di ruang rapat mengecil, nyali untuk memperjuangkan pembangunan Jembatan Barombong ciut tak bersisa. AC mobil seperti dongeng tidur yang membuat para pejabat kita nyenyak di zona nyamannya.

Tak ada jembatan baru, kita penikmat macet di Jembatan Barombong sebaiknya tidak perlu bermimpi akan dibangunkan jembatan. Kadar hipokrit eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam darah mereka sedang tinggi-tingginya.

Kita, rakyat kecil ini, sebaiknya fokus cari duit supaya bisa juga beli Alphard. Biar bisa berhipokrit berjamaah. Untung-untung kita bisa terjun bersama ke Sungai Jeneberang saat Jembatan Barombong ini runtuh.

Comments

Popular posts from this blog

Celengok

Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.

Tarwi Pertama

Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Obat Insomnia

Hari ini aku insomnia, berenang di laut adalah pilihan terbaik untuk mengobati ini semua. Banyak kerunyeman yang menggantung bebas dalam pikiran. Laut hari ini nampak jernih tak ada dosa. Aku mulai jenuh dengan keadaan yang mewarnai hari-hariku di kampus. Mungkin satu jam bersenyawa dengan mineral di lautan akan membuat tubuh menjadi sedikit santai.