Sekarang sudah 8 november, empat hari lalu ratusan ribu massa melakukan unjuk rasa dihampir seluruh kota besar di Indonesia untuk menyuarakan tuntutan proses hukum yang tegas dan cepat terhadap isu penistaan agama yang dituduhkan kepada Basuki Cahaya Purnama. Gubernur Jakarta pelanjut Joko Widodo ini melontarkan kalimat yang dianggap tidak pantas ketika melakukan kunjungan kerja ke Kepuluan Seribu di selat Jakarta. Ahok sebagai mana ia sering dipanggil dianggap telah melakukan tindakan yang melampaui batas kewenangannya sehingga ditengarai harus segera diproses secara hukum.
Peristiwa ini bermula ketika seseorang mengupload video Ahok yang sedang berbicara di depan masyarakat secara tidak terkontrol mengucapkan rangkaian kalimat yang mengomentari perihal penggunaan sebuah ayat (Al-Maidah, ayat 51) dalam kita suci milik umat Islam itu.
Video yang di upload oknum berinisial BY itu menjadi viral dan menjadi sumber perbincangan di masyarakat.
Banyak opini serta pendapat yang bermunculan akibat video tersebut dan puncaknya empat hari lalu. Unjuk rasa yang dilakukan secara besar-basaran oleh puluhan elemen organisasi Islam di ibu kota Jakarta.
Yang menarik perhatian saya adalah karakter mulut besar pak Ahok ini. Jika kita melihat latar belakang dan budaya pak Ahok yang keturunan Tionghoa maka kita tentu tidak menemukan korelasi sifat mulut besarnya dengan karater nenek moyangnya di masa lalu. Kita semua tahu bahwa kerajaan Cina di masa lalu membangun tembok besar yang panjangnya sejauh mata memandang, bahkan konon tembok itu adalah satu-satunya mahakarya umat manusia yg bisa dilihat secara langsung dari luar angkasa. Tembok ini menggambarkan karakter nenek moyang Pak Ahok yang lebih memilih membuat pembatas demi menghindari konflik dibanding melakukan perang yang tak berkesudahan dengan tetangga. Karakter tertutup warga keturunan ini dapat juga kita temui dibentuk bangunan rumah yang ada di Indonesia, di mana bentuk umumnya tertutup dengan tembok yang tinggi. Maka saya menjadi heran ketika pak Ahok tampil dengan gaya mulut besar tak pandang bulu. Dia nampak "rewa" seperti orang Bugis Makassar biasa menyebut seseorang yang punya nyali kuat. Maka blunder yang dilakukannya beberapa minggu lalu menjadi puncak gunung es dari mulut besarnya.
Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.
Comments
Post a Comment