Skip to main content

Titik Kritis

Suasana ekonomi keluargaku mencapai titik kritis, aura di rumah menjadi semakin tidak harmonis. Ibu terkadang marah tanpa alasan, ayah yang sudah diperbudak cerutu tak mau tahu. Kesulitan keungan senan tiasa melanda keluarga nelayan miskin seperti kami. Tak banyak yang mesti kami penuhi tapi tetap kekurangan diberbagai sudut hidup melanda, entah dari mana hilir masalah ini berasal
Tak ada struktur keungan tak ada penghasilan tetap yang bisa diandalkan. Seperti halnya bentuk bui di lautan yang tiap hari berubah begitulah perwujudan kehidupan kami. Menjalani semuanya tanpa ketidak pastian. Inilah masalah ekonomi tingkat dewa yang menikam dan mencabit ketenangan dari ibu dan ayah.
Bulan November yang bekerja sama dengan La Nina mengangkat mineral-mineral dari dasar lautan- Upwelling. ini semua gara-gara arus dari laut Banda yang bercumbu di selat Makassar dengan arus dari Pasifik. Ikan-ikan dalam jumlah tak terbayangkan berkumpul di sekitar daerah tangkapan, nelayan kebanjiran ikan imbasnya harga ikan anjlok. Semua itu bersatu menjadi pangkal ketimpangan isi dompet keluargaku.
Aku tak berani meminta budget, ke kampus bermodalkan perjuangan dari sisa uang negara yang kuperoleh. Aku belajar berhemat dengan aroma keterpaksaan. Mengatur detak jantung agar proses metabolisme berlangsung lama sehingga kekosongan perutku datang terlambat. Air minum kujadikan teman setia diantara yang paling setia, meski kutahu kwalitasnya tidak lebih dan tak kurang dari air galon yang diproduksi rektorat.
Aku berharap besok mendapatkan percikan proyek dosen atau kreatifitasku berbuah uang. Perutku kembali mengeluarkan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti, inilah kelaparan yang melanda. Tetapi jika kita mencoba sedikit mebuka hati lalu menutup mulut rapat maka kita akan memperoleh suatu rahasia, tidak main-main rahasianya. Kita akan menjadi paham makna dari puasa sesungguhnya dan sifat mubazir yang sering kita sepelhkan.
Hidup tidak pernah kejam karena hidup adalah kumpulan puisi-puisi ujian yang berlirik indah.

Comments

Popular posts from this blog

Celengok

Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.

Tarwi Pertama

Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Obat Insomnia

Hari ini aku insomnia, berenang di laut adalah pilihan terbaik untuk mengobati ini semua. Banyak kerunyeman yang menggantung bebas dalam pikiran. Laut hari ini nampak jernih tak ada dosa. Aku mulai jenuh dengan keadaan yang mewarnai hari-hariku di kampus. Mungkin satu jam bersenyawa dengan mineral di lautan akan membuat tubuh menjadi sedikit santai.