Bagi banyak orang, arti sebuah foto begitu penting. Foto bisa memberikan banyak informasi tentang suatu peristiwa. Sebuah foto bisa menghentikan waktu, mengabadikan kenangan. Zaman berganti, budaya baru bermunculan.
Budaya foto muncul menjadi bagian penting dari peradaban umat manusia saat ini. Selain bisa mengabadikan momen istimewa, arti sebuah foto bergeser lebih jauh lagi.
Manusia modern digempur begitu banyak jenis media sosial. Bentuk media baru itu menuntut eksistensi manusia di dalam dunia maya dalam bentuk foto dan sejenisnya. Banyak yang cuek, tetapi lebih banyak lagi yang menjadikan eksis di media sosial sebagai sebuah kebutuhan pokok, layaknya sembako, termasuk aku.
Foto sepasang calon pengantin yang jamak kita kenal dengan istilah 'foto pra-wedding' tentunya menjadi partikel kecil yang menyusun budaya baru ber-foto itu. Tidak sedikit yang kontra dengan kebiasaan baru itu, tetapi peminatnya tak pernah surut.
Hadirnya sebuah budaya baru tentu membawa dampak baik dan buruk. Foto Pra-wedding membawa keuntungan bagi tukang foto. Tarif yang lumayan menjadikan banyak fotografer berlomba menawarkan tema-tema Pra-wedding yang tidak biasa demi menarik pelanggan.
Namun terkadang tukang foto dan pelanggannya kebablasan. Pernah saya mendengar kebun bunga seseorang rusak karena terinjak-injak oleh sebuah sesi foto Pra-wedding. Atau petugas jaga rumah adat yang marah karena sepasang kekasih tanpa izin melakukan sesi foto Pra-wedding di area yang disakralkan.
Bahkan sebuah pesawat terbang di luar negeri harus jatuh hanya demi memenuhi tema foto Pra-wedding yang anti mainstream itu. Dan yang terbaru, padang rumput gunung Bromo yang kering karena dihantam kemarau berbulan-bulan sampai harus terbakar hebat karena ulah tukang foto dan pelanggannya yang nekat menyalakan flare asap demi memenuhi hasrat tema foto Pra-Wedding anti mainstream.
Tujuh tahun lalu ketika saya menikah, saya dan istri sepakat untuk tak ikutan budaya Foto Pra-wedding. Selain karena tidak percaya diri berpose mesra di depan kamera, saya juga tak punya cukup uang membayar tukang foto, hehehe.
Bagi kami, sakralnya pernikahan berada pada dimensi ke-Tuhanan, sedangkan foto Pra-wedding hanya remah-remah rempeyek duniawi. Harmonisasi pernikahan membutuhkan banyak jenis nutrisi dan kami sepakat bahwa foto Pra-wedding bukan nutrisi yang kami butuhkan.

Comments
Post a Comment