Dalam menghadapi setiap momen politik maka sudah menjadi rahasia publik bahwa figur-figur yang terlibat langsung dalam pergulatan akan membutuhkan modal materil yang lumayan besar.
Modal yang digunakan setiap calon figur-pun berbeda sesuai dengan konsep pemenangan yang tim sukses masing-masing telah konsepkan dan akan diterapkan.
Modal yang digunakan ini-pun bersumber baik dari kantong pribadi, partai pengusun, serta dari simpatisan dan donatur. Untuk penggalangan dananya pun setiap tim sukses melakukan hal yang berbeda-beda. Cara penggalangan dana kampanye yang dilakukan pada era sekarang tentu sangat berbeda jika kita bandingkan dengan beberapa periode silam.
Jika kita berkaca pada pemilihan presiden Amerika pada saat Barack Obama mencalonkan diri untuk periode pertama. Tim suksesnya berhasil menghimpun dana kampanye lebih dari 2 milyar dollar AS, yang merupakan terbesar dalam sejarah. Tim sukses mereka melakukannya dengan cara yang unik melalui media internet.
Hal yang kurang lebih sama juga dipakai oleh tim sukses dari pasangan Jokowi-JK pada pemilihan presiden 2014. mereka melakukan kampanye pengumpulan dana melalui media sosial serta beberapa kali acara konser musik. Tim sukses ini berhasil memperoleh dana kampanye yang tidak sedikit.
Pada pilkada Jakarta kali ini tim sukses Ahok yang dimotori artis-artis papan atas telah berhasil mengadakan konser pengalangan dana. Dan sementara berlangsung penggalangan dana melalui penjualan syal Ahok-Jarot secara online. Sedangkan tim Anis-Sandi fokus pada acara-acara challenge untuk menarik minat para donatur.
Tetapi cara yang lebih unik lagi menurutku oleh apa yang dilakukan tim sukses pasangan Syamsari-Ahmad dalam proses pengumpulan dana kampanye di pilkada kabupaten Takalar 2017 kali ini. Mereka membungkus acara pengumpulan dana kampanye dalam konsep yang sangat berbudaya.
![]() |
| Prosesi Attabba' |
Attaba’ yang merupakan budaya mengumpulkan dana dari sanak keluarga serta tetangga yang biasanya dilakukan pada saat salah satu anggota keluarga atau tetangga menyelenggarakan hajatan sebagai wujud semangat gotong royong. Budaya Attaba’ ini oleh tim sukses pasangan Syamsari-Ahmad, diguanakan untuk memabantu pengumpulan dana kampanye sehingga para donatur merasa melakukannya dengan dorongan semangat kekeluargaan, gotong royong serta rasa kedekatan secara emosional.
Cara-cara yang dilakukan oleh tim sukses para figur tadi tentunya didesain seunik dan semenarik mungkin untuk tentunya memperoleh dana kampanye. Jika dibandingan yang dilakukan oleh beberapa oknum figur dengan tim suksesnya dibeberapa daerah, tentu cara yang dilakukan oleh contok figur semacam Barack Obama, Jokowi, Ahok, Anis, serta Syamsari ini lebih kreatif dan bermartabat.
Di beberapa daerah, disetiap momen pilkada maka tak jarang tim sukses calon apalagi yang sedang menjabat itu melakukan pengumpulan dana kampanye dengan cara memeras SKPD serta bawahan yang lemah secara kedudukan. Tentunya cara ini selain tidak kreatif juga menimbulkan banyak kerugian serta sarat dengan politik permainan uang.
Maka searifnya kita sebagai masyarakat dapat menilai cara-cara kreatif ini sebagai awal dari keterbukaan dalam berpolitik. Serta kematangan dalam mengeksekusi sebuah konsep pemikiran yang nantinya sangat berpengaruh ketika figur-figur kreatif ini memimpin suatu pemerintahan.
