Skip to main content

Kaum Praduga tak Bersalah

Kemarin saat saya balik ke kampus, kabur dari posko KKN. Seperti biasa saat ketemu dengan sahabat-sahabat kampus yang berkarat di BEM, kerjaan kita tidak jauh-jauh dari berdebat tidak jelas, saling mengejek (calla: bahasa Makassar), dan yang tak pernah kita lewatkan adalah ngebahas cewe.
Sebagai pria normal dengan emosi yang berada pada tingkat rawan, ngebahas cewe panjang lebar serasa diwajarkan. Mulai dari cerita teman yang ngos-ngosan mengejar cewe idamannya sampai yang nampak angkuh karena punya lebih dari satu selingkuhan (padahal remuk redam). Derita kami bermacam-macam untuk urusan cewe.
Sampailah pada perdebatan yang tak terduga, teman yang satu sebutlah si 'A' berjenis kelamin perempuan, berdebat dengan si 'pelaku' yang berstatus Play Boy Praduga tak Bersalah.

"kau memang salah, sudah punya pacar tapi masi ngeganggu cewe lain" cerotos si 'A' dengan muka menghakimi.

"bukan begitu maksudku, saya dekat dengan cewe itu sebatas.." belum sempat selesai si 'pelaku' berucap

"ah..pokoknya kau memang ya salah, play boy ko kau" bentak si 'A' dengan nada sedikit jengkel.

Melihat perdebatan mereka yang timpang, aku mencoba masuk dalam medang perdebatan.
"beginiee.., kalau menurutku cowo itu pada dasarnya tidak play boy, tapi mereka itu kagum melihat cewe lain yang tampilnya memang menyita perhatian alias cantik" ujarku.

"huumm.. begitu maksudku" sambung si 'pelaku'.

"ah, sama jako kau" si 'A' dongkol.

Setidak-tidak menariknya seorang lelaki namun tetap saja terkadang mereka dijatuh Praduga tak Bersalah, identik dengan memainkan padahal kita juga rentan dipermainkan. Sebagai kaum yang selalu jadi tersangka saya sudah lelah dengarin keluhan, menghela senjata pamungkas kaum cewe -menangis.

Comments

Popular posts from this blog

Tarwi Pertama

Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Celengok

Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.

Obat Insomnia

Hari ini aku insomnia, berenang di laut adalah pilihan terbaik untuk mengobati ini semua. Banyak kerunyeman yang menggantung bebas dalam pikiran. Laut hari ini nampak jernih tak ada dosa. Aku mulai jenuh dengan keadaan yang mewarnai hari-hariku di kampus. Mungkin satu jam bersenyawa dengan mineral di lautan akan membuat tubuh menjadi sedikit santai.