58 hari bersama intelektual kampus di tanah rantau pada sebuah kesempatan yang indah. Tak akan terhapus oleh waktu setiap detik yang telah diukir. Terima Kasih buat Ibu kami -Puang Haji Kanang dan keluarga besarnya. Hanya Tuhan yang mampu membalas kelapangan hati dan keikhlasan dari jiwa mu. Terima kasih buat kawan-kawanku, Muhammad Tahir (Tahir) Dwi Andriani Na'ga (Dwi) Zulfikar (zul) Ryan Imanuel Sambara (Ryan) Syarifuddin (Syarif) Icha Mustamin (Icha) Rofinus Mbusa (Mus) Suriadi (Adi). Thanks for All.
Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Comments
Post a Comment