Skip to main content

Dari Puncak Tai Ayam

Ada yang tahu kisah cinta 80-an?
Jika ada yang tahu maka segerahla bersyukur karena anda adalah pencinta melankolis dan gaya rambut penuh kutu dengan celana jeans botol yang buram. Di sudut kamera yang kesemutan dan dialog yang sudah bisa ditebak. Ditonton dari layar tancap propaganda ORBA untuk program "dua anak cukup" atau televisi 14 inci dikotomi -hitam putih.
Dan cinta 80-an lah yang telah mengerumuni hatiku saat ini kawan. Aku tak tahu sebap musabapnya, tiba-tiba ia hadir seperti upil dipagi hari -tragis. Tapi aku sedikit menaruh curiga hatiku yang melankolis dan mudah dirayu inilah biang keroknya. Upil itu mengelinding masuk kedalam hatiku, dengan lugu segmen-nya mendefinisikan itu sebagai cinta maka jadilah aku seperti apa aku adanya sekarang.
Asap debu Pete-pete dan batuk penuh rindu dari tukang ojek seakan menjadi icon dramatis dan original sountrak kisah cintaku yang 80-an banget. Suasananya itu tak kalah dengan boker yang telah ditahan beberapa jam saat ngedate kemudian kita buang di lubang kloset. "nikmat toh?".
Hari-hari diisi dengan cinta segitiga siku-siku yang salah satu sisi-nya adalah aku, aku dengan warnaku yang 80-an. Segitiga siku-siku ini sungguh kurasa akan segera terbentuk menjadi garis lurus yang hanya akan memiliki dua titik, "paham jaki toh kawan maksudku?"
Kulihat dari pantat kuda, kulihat dari puncak tai ayam, kulihat dari selokan-selokan tempat berpestanya jentik nyamuk, ini tetap sama. Aku tak ada di salah satu titik itu.

Comments

Popular posts from this blog

Tarwi Pertama

Malam pertama Ramadhan, masjid muntah kelebihan orang bertobat. Imam mangap-mangap melafadzkan Al Fateha karena ulah kipas angin yang tiba-tiba mandek. Gambaran puluhan tahun tindak tanduk orang-orang di kampungku, on fire diawal bulan, on the way di akhir sabit. Malam itu aku berada di baris belakang di barisan manusia-manusia yang baru belajar ditingkat meneguk air minum alias children Warriors . Bukan kesengajaan aku berada pada keadaan seperti ini. Lima menit sebelumnya saat muadzin mengumandangkan panggilan kemenangan aku masih tak mau menyadarkan diri menyentuh air wuduh. Aku masih berkelahi dengan iblis-iblis yang baru saja dijatuhi hukuman satu bulan dibui tampa masa percobaan sesaat setelah hilal terindera oleh abdi Pemerintah. Sudah menjadi kebiasaan buruk bagiku, mengambil injuri time , saat ikhomat berkumandang, dengan akselerasi kecepatan berlari melintasi tiga rumah dari mesjid. Aku tiba di mesjid sesaat setelah ma’mum serentak mengucapkan “amin….!!!”- Masbuk,...

Celengok

Stabail: Tidak timpang, kokoh tak goyang. Bertahan dan mampu mempertahankan dirinya. Hidup ini warna warni jelas bukan kajian dikotomi. Pandangan kita selayaknya menerima arti dari pluralisme. Maksudku disini bukan persamaan nilai luhur tetapi cukup pada keaneka ragaman yang dapat diterima. Labil: celengok celengik kayak ayam gundul tak punya fokus. Terbang sesuka naluri hewaniyanya lalu hinggap diam, menangis, tertawa kemudian sesekali menggoda - ciri Kuntilanak.

Obat Insomnia

Hari ini aku insomnia, berenang di laut adalah pilihan terbaik untuk mengobati ini semua. Banyak kerunyeman yang menggantung bebas dalam pikiran. Laut hari ini nampak jernih tak ada dosa. Aku mulai jenuh dengan keadaan yang mewarnai hari-hariku di kampus. Mungkin satu jam bersenyawa dengan mineral di lautan akan membuat tubuh menjadi sedikit santai.