Aku khawatir, IQ ku yang setiap hari berkurang satu digit ini tidak lain dan tak bukan adalah ulah asap tembakau sialan yang dihirup ibu ku sebagai perokok pasif saat aku masi bersemayan di rahimnya. Aku adalah korban ketidak becusan pemerintah mensekolahkan rakyatnya, sehingga gaya hidup Ibu Bapak ku jauh dari standar WHO. Ayah ku yang telah menjadi langganan setia pelanggar Maklumat Daerah perihal merokok di tempat umum. Bayangkan saja kawan, aku telah menjadi jajahan asap nikotin selama dua dekade lebih. Saat aku tak di rumah dan jauh dari hembusan mematikan Cerutu ayah ku, maka aku akan dekat dengan nafas pengat yang juga berasap dari setan-setan kecil penerus sang The Real Smoker- taman kampus ku.
21 tahun menjadi perokok pasif membuat tensiku menuntut, darahku naik dengan cepat, ingin kuhempaskan perokok-perokok itu ke kudus- Kota Kretek. Ingin kubuang mereka ke Surga pecandu nikotin mematikan itu. Tapi satu dari mereka adalah ayah ku dan beberapa bagian lainnya adalah teman-temanku, tidak ada kuasaku untuk melakukan itu.
“MEROKOK DAPAT MENYEBAPKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN” Itulah kalimat bajakan yang terpatrih ditiap pembungkus kretek-kretek terkutuk. Kalau diisinkan, aku iningin menambah kalimatnya. Begini tulisannya lebih bagus,“MEROKOK DAPAT MENYEBAPKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN, KEMISKINAN, DAN PERTENGKARAN DALAM RUMAH TANGGA”. Sudah bukan pemandangan yang mengejutkan, Ayah ku yang pekerja keras dan Ibu ku yang abdi setia, bersilat lidah sebap tiang-tiang ekonomi keluarga goya akibat akselarisi kecepatan pengeluaran yang melesat jauh gara-gara tembakau sialan itu. Keluarga kami adalah contoh nyata dari pepatah usang “lebih besar pasak dari pada tiang”. Ini semua hanya demi membeli produk dari sponsor ajang bulu tangkis Indonesian Open, atau penyokok dana utama dari Indonesian Super League itu.
Aku tahu di Surga umat manusia di halalkan menikmati semua hal yang diharamkan di dunia. Berpesta tuak dahalkan, berpesta seks khas pemain bola sepak negeri Elisabeth-pun tak dilarang, tapi aku tak pernah mendengar kalau-kalau menikmati tembakau di Surga itu diberikan surat izin. Aku berkeyakinan bahwa asap Cerutu yang bernyawakan nikotin, akan tetap saja beracun dimana pun keberadaannya.
Inilah curahan hatiku 21 tahun menjadi perokok pasif. Terkadang aku ingin merubah gelarku menjadi yang aktif, tapi dengan alasan-alasan ku di atas. Aku tidak akan menghianati hak-hak manusia yang bersifat pasif. Aku akan tetap menjadi korban hembusan awan putih yang mematikan dari lahir sampai dalam liang, Amin.
Comments
Post a Comment