Sisi lain dari kehidupan umat manusia adalah kajian yang tak lekan oleh zaman, setiap individu adalah cerita yang memiliki alur dan mengalir sepanjang waktu.
15 juli 2011 pukul empat sore beranjak dari Makassar menuju Parepare. Perjalan yang berjarak tidak kurang dari 120 km. Menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang perjalan ini ditempuh lebih dari empat jam. Ukuran tangki bensin sepeda motor bebek full tangki-4 liter.
Selepas dari kota Makassar, memasuki kota Maros. Nampak Mesjid Agung Kota Maros yang anggun, diseberang jalan berdiri majelis untuk para wakil rakyat daerah. Maros adalah kota dengan tebing kars yang hijau. Sepanjang jalan adalah tebing kapur yang terangkat dari dasar laut. Inilah peninggalan zaman Bumi muda yang masih bisa kita nikmati.
Tak ada yang terlalu istimwa di sepanjang jalan di kota ini. Hanya sesekali melihat kars yang berada di kejauhan nampak dikuliti industri semen dan marmer. Banyak lalu lalan kendaraan berat yang menggendong bongkahan marmer yang diperas dari tebing kars. Dan truk panjang dengan bertumpuk-tumpuk karun semen yang siap ekspor. Bentuk penjajahan terhadap kelestarian alam Nampak jelas disepanjang jalan kota Maros.
Saya disambut Tugu yang tingginya 7 meter dengan patung Elang dipuncaknya, dibawahnya bertuliskan “selamat datang di kota PANGKEP”. Inilah tuguh selamat datang kota Pangka Jene’ Kepulauan yang berdiri di seberang jembatan, aku tidak tahu nama jembatannya. PANGKEP masuk dalam mega proyek tans Sulawesi. Proyek pembangunan jalan beton PANGKEP-Parepere, tapi nyatanya keadaan jalan di PANGKEP tidaklah bersahabat. Keadaan jalannya seakan menggambarkan ketidak akuran pemerintah dengan masyarakat dalam upaya pelepasan tanah proyek trans Sulawesi.
Dengan Water Boom nya yang ketinggalan zaman, dan industry semen-nya yang kaku. PANGKEP berbenah menjadi kota yang terpandang tampa harus melupakan fenomena di pinggiran kotanya-Mandalle Street.
Dengan laju yang cukup lancar saya mengarungi jalanan kota Barru, keadaan jalannya cukup bagus. Barru juga berhiaskan tebing kars, tapi kali ini terdapat di bibir pantai. Malusetasi, kota kenangan bagi dunia penerbangan. Januari 2007, Adam Air raib di culik turbulensi atmosfir di selat Makassar. buntut dari pesawat itu tidak sengaja di temukan nelayan di daerah ini, sehingga nama daerah ini menjadi tenar.
Memasuki kota Parepare saya disambut tugu kesombongan “Disini Lahir Seorang Pemimpin Bangsa”, inilah kota kelahiran Pak Habibie. Sejak pertama kali ku injakkan kaki-ku di kota ini, aku telah dibuatnya jatuh hati. Kota ini adalah kota tebing yang ada di penggir laut. Dikalau malam merangkul, Nampak lampu-lampu bertingkat layaknya kota Rio De Jeniero-Barsil. Tata kota yang rapi membuatku betah, ditambah cantiknya dayang-dayang yang menghiasi kota ini.
Inilah cerita perjalanku dari Makassar-Parepare
Comments
Post a Comment